MyFreeCopyright.com Registered & Protected

Apakah yang terbesit saat anda melihat seseorang pria atau wanita memakai snelli (jas dokter)?

“wah, dokter…pasti pintar…cerdas…”

Mayoritas orang-orang akan berkomentar hal demikian. Dokter dan pintar, merupakan dua hal yang selaku dikaitkan. Dokter itu pintar. Jarang, bahkan hampir tidak ada yang berkomentar dokter itu bodoh.

.

Kian terbukanya era sekarang membuat media semakin gencar memberitakan kasus malpraktek kedokteran. Namun sepertinya para pekerja medis banyak yang lupa akan malpraktek. Mereka selalu bersembunyi dibalik UU Kedokteran atau UU Praktik Kedokteran. Padahal dalam fakta dilapangan, banyak dokter yang menyalahi prosedur dengan alasan biaya.

.

Malpraktek terjadi tentu dikarenakan ada penyebabnya, yakni kesalahan penanganan medis. Kesalahan penanganan biasanya terjadi karena kurang kompeten dalam nenangani kasus. Inilah yang mulai sering diperbincangkan sekarang (atau mungkin sejak dulu namun tidak di-expose media?).

.

.

.

DOKTER & SEKOLAH KEDOKTERAN

.

Pendidikan dokter, pendidikan dokter gigi, merupakan dua program studi yang masih menjadi favorit bagi orang tua calon mahasiswa baru. berbagai cara ditempuh agar anaknya bisa masuk sekolah kedokteran unggulan, seperti FKUI, FKUGM, FK Unair, FK Unpad,  (4 fakultas kedokteran favorit tertinggi peminatnya ditahun 2002-2005). Universitas swasta pun juga jadi daftar perburuan cadangan (jika tidak lulus di negeri), seperti FK Trisakti (favorit Jakarta), FK Maranatha (favorit Bandung), FK UMY (favorit Yogya), dan FK Unissula (favorit Jateng).

.

Periode 1990-2000 sekolah kedokteran di Indonesia (sekitar 26 sekolah kedokteran) belum sebanyak tahun 2011 ini, yaitu sebanyak 67 sekolah kedokteran (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_kedokteran). Saat sekolah kedokteran masih langka, untuk meluluskan seorang dokter begitu sulit dikarenakan kurikulum yang masih tradisional dan durasi pendidikan yang begitu lama hingga mencapai 8 tahun. Sementara dokter yang dibutuhkan di Indonesia begitu tinggi. Dengan komposisi yang tidak seimbang seperti ini, memaksa keadaan untuk membuka sekolah kedokteran baru. Inilah yang menjadikan banyak universitas swasta yang berkompetisi membuka sekolah kedokteran dengan berbagai packaging yang “cantik” bak ajang bisnis.

.

Saya masih ingat beberapa saudara dan teman-teman senior saya mengatakan bahwa untuk lulus sarjana kedokteran saja sangat sulit apalagi co-ass. Mungkin bisa 8-10 tahun. Tapi zaman sekarang dalam kurun 5-6 tahun pun sudah bisa jadi dokter. Apakah itu dikarenakan mahasiswa kini lebih pintar dari mahasiswa dulu? Tidak. Ternyata ini dikarenakan kebijakan tiap sekolah kedokteran berbeda-beda alias tidak seragam di seluruh Indonesia.

.

Ada sekolah kedokteran yang begitu sulit untuk memasukinya, namun saat perkuliahan nilai begitu dipermudah (SMGK = Susah Masuk Gampang Keluar). Ada juga sekolah kedokteran yang begitu gampang untuk masuk namun dipersulit dalam kelulusannya (GMSK = Gampang Masuk Susah Keluar).

.

Kebijakan SMGK mayoritas diterapkan di perguruan tinggi negeri. Sementara GMSK diterapkan di perguruan tinggi swasta. Hal ini masih berlaku hingga sekarang. SMGK diterapkan karena (dahulu) orang yang berhasil masuk PTN (jalur SPMB) dianggap telah memenuhi standar alias pintar kecerdasan otak, sehingga dalam perkuliahan tidak perlu dipersulit. Sedangkan orang yang masuk PTS dianggap bodoh (karena cadangan negeri) sehingga perlu di gembleng (diajar berulang-ulang sampai mengerti) sehingga GMSK cocok iterapkan di swasta.

.

Entah mengapa diskriminasi ini mulai terjadi. Memang benar, secara logika PTS (zaman dulu) dijadikan cadangan karena kurikulumnya belum sebaik negeri, maupun fasilitas laboratoriumnya. Disamping itu biayanya juga lebih mahal. Namun jika kita melihat dari ilmu yang akan disajikan (kodekteran), ini sangatberhubungan dengan nyawa. Apabila sekolah kedokteran memang menghasilkan orang-orang cerdas, mengapa harus ada sistem GMSK? Bukankah syarat menjadi dokter adalah harus “mengerti-akan apa yang akan ditangani, dan mengetahui-apa yang harus dilakukan” ??? Jika GMSK diterapkan, bukankah orang yang tidak mengerti apa-apa akan menjadi dokter yang tidak mengerti apa-apa???

Ingat pepatah; BERLIAN apabila dibenamkan ke lumpur, maka akan tetap bersinar. Segala sesuatu bergantung pada INPUT (Calon Mahasiswa).

Semakin gampang test masuk sekolah kedokteran, maka akan semakin banyak dokter bodoh yang berkeliaran disekitar anda!

.

.

.

JALUR KHUSUS PERGURUAN TINGGI NEGERI

.

Awal tahun 2005, saat dinyatakan lulus Ujian Nasional, saya bersama sahabat bersama-sama membeli formulir di Sabuga Bandung. Namun saya agak terkejut karena diberi formulirdengan tulisan hijau. Saya pikir ini juga formulir SPMB. Ternyata bertuliskan surat pernyataan kesanggupan membayar sejumlah uang untuk masuk program studi yang diinginkan. Untuk kedokteran minimal sumbangan Rp 75 juta, kedokteran gigi minimal Rp 45 juta, sumbangan kelipatan 25 juta. Saya lupa untuk program studi yang lain. Tentu saja perguruan tinggi yang menawakan ini adalah Universitas Padjadjaran.

.

Kejadian seperti ini mulai marak di tahun 2005. Setiap panitia SPMB yang ditunjuk biasanya ada 1 stand yang membagikan formulir pernyataan seperti ini. Di depok pun, saat teman saya akan memebli formulir juga mendapatkannya. Bedanya sumbangan untuk masuk ke Universitas Indonesia adalah Rp 250 juta untuk fakultas kedokteran. Ini resmi, legal, dan terbuka untuk umum. Sungguh ironis dan memalukan.

.

Tak hanya Unpad dan UI yang membuka jalur mandiri seperti ini. Kini hampir setiap PTN membuka jalur khusus baik secara terang-terangan, maupun tertutup. Sebut saja Unibraw, UGM, Unair, bahkan USU di Medan pun sudah membuka jalur khusus dengan biaya kuliah Rp 55 juta per tahun. Fantastis! (sumber : sepupu saya yang kuliah di FK USU).

.

.

.

SULITNYA MENDAPAT NILAI “C”

.

Fakultas kedokteran memiliki kurikulum yang lebih berat dibandingkan program studi lainnya. Masa studi berlangsung selama lebih kurang 6 tahun dimana 4 tahun program sarjana dan 2 tahun program profesi. Sejak diberlakukannya Problem Based Learning (PBL) pada kurikulum fakultas kedokteran, masa studi lebih singkat yakni 5 tahun dimana 3,5 tahun program sarjana dan 1,5 tahun program profesi. SKS yang dibebankan pun terbilang banyak yaitu 160 sks + 40 sks = 200 sks untuk total 6 tahun kuliah. Bandingkan engan program sarjana studi lain yang berkisar 144 sks.

.

Demikian halnya dengan proses pembelajaran di kelas. Meskipun metodenya hampir sama dengan sistem perkuliahan umumnya, namun sekolah kedokteran tetap dikenal dengan “jurusan susah lulus”. Dosen-dosen yang mengajar mayoritas dikenal dengan “dosen killer”. Ini dikarenakan cara mengajar mereka yang keras dan sulit mendapatkan standar nilai yang baik. Alhasil banyak dari mahasiswa kedokteran yang puas dengan nilai C (karena jika mengulang mata kuliah, belum tentu nilai meningkat). Hal seperti ini sudah dianggap makanan sehari-hari oleh mahasiswa kedokteran. Terutama yang berkuliah di sekolah kedokteran favorit yang terkenal “susah lulus” seperti FKUI, FK Unair, FK Trisakti,

.

Namun tidak demikian dengan sekolah kedokteran yang kurang favorit dan sekolah kedokteran yang baru beroperasi. Mereka tidak menerapkan sistem sesulit sekolah kedokteran favorit. Dosen-dosen mereka rajin memberikan nilai B asalkan mereka rajin hadir perkuliahan dan bersikap baik pada dosen. Sementara di sekolah kedokteran favorit, untuk mendapat nilai C saja sulit meskipun rajin mengerjakan tugas, nilai tugas baik, nilai ujian memenuhi standar, maupun bersikap sopan pada dosen. Sistem ini begitu timpang. Alhasil mahasiswa sekolah kedokteran favorit akan lebih lama lulus namun dengan skill yang mumpuni. Sementara itu mahasiswa sekolah kedokteran biasa akan lulus tepat waktu dengan skill yang biasa-biasa saja alias standar.

.

Pembiaran ini terus menerus terjadi meskipun Ujian Negara sudah ditiadakan. Dengan dihapusnya ujian negara otomatis setiap sekolah kedokteran berhak meluluskan mahasiswanya dengan standarisasi universitas yang mereka terapkan sendiri. Dari sinilah perbedaan standarisasi itu menguat. Munculnya istilah sekolah gampang lulus maupun sekolah susah lulus semakin mencuat. Imbasnya perbedaan skill pun terjadi saat mereka dinyatakan lulus profesi dokter.

Perbedaan ini semakin jelas terlihat dengan banyaknya kasus malpraktek kedokteran yang marak terjadi dari dulu. Bayangkan saja seorang dokter mendiagnosis penyakit DBD pada penderita Typhus. Jelas-jelas ini salah. Dikarenakan gejala yang hampir serupa, seorang dokter salah mendiagnosis penyakit. Ini semua diakibatkan mereka lulus dengan skill yang pas-pasan di sekolah kedokteran yang pas-pasan juga.

Apakah anda tahu bahwa diluar negeri untuk membuka ijin sekolah kedokteran begitu sulit??? Sebaliknya di Indonesia, mendapat ijin pembukaan sekolah kedokteran begitu gampang. Makanya, anda tak perlu heran banyak sekolah kedokteran gelap sekitar tahun 2005 lalu, seperti Fakultas Kedokteran Universitas Prima Indonesia (Medan, sekarang sudah berijin 2010) dan Fakultas Kedoteran Universitas Abdurrab (Pekanbaru, sekarang sudah berijin 2010). Meskipun sekolah ini sudah berijin namun dipastikan sepi peminat karena peristiwa masa lalu tersebut.

.

.

.

REFORMASI SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA

.

Satu-satunya jalan yang bisa kita lakukan adalah membenahi sistem pendidikan di Indonesia, khususnya untuk Fakultas Kedokteran. Sekolah medis menanggung beban nyawa manusia. Tidak sepantasnya kita mempermainkan ciptaan Tuhan. Membunuh nyawa hewan saja termasuk sadis apalagi membunuh nyawa manusia, bukan?

.

Pemerintah sebagai pemberi ijin pembukaan sekolah kedokteran harus menerapkan sistem berlapis dalam pemenuhan standar sekolah kedokteran yang bermutu. Jangan hanya dikarenakan nilai-nilai bisnis semata pemerintah jadi melupakan nilai luhur pendidikan.

Apa gunanya ada universitas jika lulusannya tak jauh ebda dengan lulusan SMA?

Apa gunanya ada fakultas kedokteran jika lulusannya bisa kalah dengan pengobatan alternatif otodidak?

Sungguh suatu perenungan buat kita semua yang mengenyam pendidikan tinggi…

.

.

.

Salam,

Raffreds Northman

About Raffreds

Open the eyes of the world, Creating the impossible, Inspiring many people.
This entry was posted in EDUCATION, Health & Beauty, MEDICINE, University & College and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response

  1. Maureen says:

    Seperti semua profesi lainnya, tidak semua Dokter pintar, dan tidak semua sarjana pertanian atau sarjana ekonomi pintar, saya setuju tapi untuk memvonis seorang Dokter melakukan malpraktek adalah suatu argumen yang terlalu riskan.
    Untuk menulis tentang keadaan dan situasi di dalam pendidikan Kedokteran itu sendiri secara benar maka saran saya sebaiknya anda kuliah dahulu di Fakultas Kedokteran
    sebagai mahasiswa kedokteran :)

Leave a Reply

  • Raffreds Northman

  • 8 Universitas Termahal Di Indonesia Tahun 2011

  • Select Categories

  • Blogroll

  • Latest Tweets

  • November 2013

    September 2011
    M T W T F S S
    « Aug   Jan »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  
  • Quote

    Discipline, Focus, and Patience
  • Visitors Today

    2,235
    Unique
    Visitors
    Google Analytics

Browse by Topic